Pendampingan Guru SDN Bantar Kemang 2 untuk Meningkatkan Kompetensi Pembuatan Soal Asesmen Kompetensi Minimum Literasi Numerasi

Penulis

  • Rukmini Handayani PGSD, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan, Indonesia
  • Ratih Purnamasari PGSD, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan, Indonesia
  • Nurlinda Safitri PGSD, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.54082/jamsi.1077

Kata Kunci:

Soal AKM, Kompetensi Guru, Literasi Numerasi

Abstrak

Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) yang sudah digulirkan oleh pemerintah untuk mengganti sistem Ujian Nasional menjadi pengalaman baru bagi para guru. Meski hanya dilakukan untuk kelas 5, serta tidak dijadikan sebagai syarat kelulusan siswa, namun nilai AKM akan menjadi bukti keseriusan dalam mengelola sekolah. Hal ini dikarenakan masih kurangnya kemampuan guru dalam memahami framework AKM serta konteks yang harus dipenuhi. Selain itu, AKM masih relative baru, sehingga siswa belum terbiasa dengan soal AKM literasi numerasi. Hal ini memperkuat guru memiliki bank soal AKM untuk modal dalam melatih siswa. Oleh karena itu, pendampingan guru SD untuk meningkatkan kompetensi pembuatan soal AKM literasi numerasi. Tujuan dari PKM yakni, agar para guru SD mitra memiliki kompetensi dalam membuat soal sesuai framwork AKM literasi numerasi. Beberapa tahapan PkM: Sosialisasi AKM dan soal literasi numerasi; Analisis kesalahan soal literasi numerasi dari bank soal yang dimiliki guru; Merancang soal literasi numerasi sesuai framwork AKM; Latihan pembuatan soal AKM literasi numerasi secara berkelompok; Latihan pembuatan soal AKM literasi. Para guru peserta pendampingan antusias dalam menyusun soal AKM literasi numerasi. Hasil kegiatan berupa kemampuan guru dalam membuat soal sesuai framework AKM literasi numerasi sebagai berikut: 1). Konten, 100% sesuai konten materi pada kelas dan mata Pelajaran masing-masing.; 2). Proses Kognitif (Knowing, Applying, dan Reasoning), sebanyak 40% masih bersifat knowing, soal applying belum sampai nenamaham informasi secara tersirat dan memadukan interpretasi antar bagian dalam teks. dan dalam reasoning masih belum menyelesaikan masalah bersifat nonrutin; 3). Kontekstual, sudah dapat menyesuaikan kontekstual dari personal, sosial-budaya dan sains sesuai dengan materi.

Referensi

Amalia, A., Rusdi, Kamid. (2021). Pengembangan Soal Matematika Bermuatan HOTS Setara PISA Berkonteks Pancasila. Jurnal Cendekia, 5(1).

Humam, M. R. F. (2022). Problematika dalam Pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) pada Siswa Kelas 5 SDN Ketawanggede Kota Malang. http://etheses.uin-malang.ac.id/36062/1/18140009.pdf.

Irmawati, F., & Ilmah, N. K. (2022). Analisis Kemampuan Literasi Numerasi pada Siswa Kelas 5 SDN Saptorenggo 3 Kabupaten Malang. Dompu: https://jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/ article/view/1083

Kemendikbud. (2020). Buku Desain Pengembangan Soal Asesmen Kompetensi Minimum 2020. Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Badan Penelitian Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud.

Pangesti, Fitraning Tyas Puji. (2018). Menumbuhkembangkan literasi Numerasi pada pembelajaran Matematika dengan soal HOTS. Indonesian Digital Journal of Mathematics and Education Volume 5 Nomor 9 Tahun 2018 http://idealmathedu.p4tkmatematika.org ISSN2407-8530

Purnamasari, Ratih., dkk. (2023). Pengembangan Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Riau: Literasi Numerasi Kelas 5 Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu Volume 7 Nomor 1 Tahun 2023. Research & Learning in Elementary Education https://jbasic.org/index.php/basicedu.

Sari, Dwi Cahya. (2015). Karakteristik Soal TIMSS. Jogjakarta: Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNY

Diterbitkan

06-03-2024

Cara Mengutip

Handayani, R., Purnamasari, R., & Safitri, N. (2024). Pendampingan Guru SDN Bantar Kemang 2 untuk Meningkatkan Kompetensi Pembuatan Soal Asesmen Kompetensi Minimum Literasi Numerasi. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia, 4(2), 351–358. https://doi.org/10.54082/jamsi.1077