Diplomasi Publik Pemuda dan Penguatan Kapasitas Anak serta Ruang Belajar Komunitas melalui KKN Internasional di Xã Bàu Lâm, Vietnam
DOI:
https://doi.org/10.54082/jamsi.3356Kata Kunci:
ASEAN, Bàu Lâm, diplomasi publik, KKN Internasional, pengabdian masyarakatAbstrak
Konektivitas antarmasyarakat merupakan pilar Komunitas ASEAN yang masih lemah dalam praktik, khususnya pada tingkat komunitas pedesaan. Artikel ini melaporkan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Jenderal Soedirman di Xã Bàu Lâm, Kota Ho Chi Minh, Vietnam, pada 10 Juli sampai 5 Agustus 2026, yang terintegrasi ke dalam Green Summer Volunteer Campaign (Mùa Hè Xanh) University of Social Sciences and Humanities (USSH). Kegiatan melibatkan sepuluh mahasiswa Unsoed bersama lima mahasiswa Universitas Mataram, 25 mahasiswa USSH, dan 15 relawan Youth Union setempat. Metode pelaksanaan memadukan asset-based community development dengan international service-learning melalui empat tahap, yaitu koordinasi institusional, asesmen kebutuhan partisipatif, implementasi bersama, serta evaluasi dan tindak lanjut. Tiga program utama terealisasi penuh sesuai volume yang direncanakan, meliputi mural edukatif sepanjang sekitar dua puluh meter di Rumah Adat Chơ Ro selama delapan hari, Summer Class bahasa Inggris dan permainan tradisional dalam delapan sesi dengan rata-rata sepuluh anak per sesi, serta pertukaran budaya yang berpuncak pada Vietnam-Indonesia Cultural Exchange Festival dengan kehadiran lebih dari dua puluh warga. Capaian Summer Class dilaporkan pada tingkat partisipasi dan respons peserta, bukan pada perubahan kemampuan bahasa, karena tidak tersedia asesmen sebelum dan sesudah program. Temuan utama adalah pergeseran diplomasi budaya dari satu arah menuju resiprositas, yang ditelusuri melalui catatan lapangan berupa inisiatif mitra Vietnam mempelajari dan menampilkan Tari Pukat serta Ondel-Ondel, tampilnya kelompok ibu-ibu warga sebagai penyaji budaya Vietnam pada panggung yang sama, dan pembagian peran penyajian yang berimbang dalam kelompok campuran pada exchange program di USSH. Keterbatasan bahasa, cuaca, dan regulasi keimigrasian mendorong penyesuaian peran mahasiswa dari pengajar utama menjadi ko-fasilitator.
Referensi
ASEAN Secretariat. (2015). ASEAN Community Vision 2025. ASEAN Secretariat. https://asean.org/wp-content/uploads/images/2015/November/aec-page/ASEAN-Community-Vision-2025.pdf
Bringle, R. G., & Hatcher, J. A. (2007). Civic engagement and service learning: Implications for higher education in America and South Africa. Education as Change, 11(3), 79-85. https://doi.org/10.1080/16823200709487181
Camus, R. M., Ngai, G., Kwan, K. P., & Chan, S. (2026). Outcomes and factors of international service-learning from student perspective: A qualitative study in Hong Kong. ECNU Review of Education. Advance online publication. https://doi.org/10.1177/20965311261421650
Crabtree, R. D. (2008). Theoretical foundations for international service-learning. Michigan Journal of Community Service Learning, 15(1), 18-36.
Fitrah, E. (2026, Juli 15). Kembali ke Ho Chi Minh City, menyaksikan Vietnam yang makin melesat. Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2026/07/15/080500626/kembali-ke-ho-chi-minh-city-menyaksikan-vietnam-yang-makin-melesat
Fitrah, E., Wibowo, C., Manurung, B. N. A., Nisrina, N., Nurazizah, H., & Oasis, M. I. (2025). Penguatan kerjasama ASEAN melalui program kuliah kerja nyata internasional Universitas Jenderal Soedirman di Desa An Nhơn Tây, Distrik Củ Chi, Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia, 5(6), 2731-2742. https://doi.org/10.54082/jamsi.2229
Intal, P., Jr., Setyadi, E., Suhud, Y., & Hapsari, T. S. (2017). Voices of ASEAN: What does ASEAN mean to ASEAN people? Dalam ASEAN at 50 (Vol. 2, hlm. 1–18). Economic Research Institute for ASEAN and East Asia.
Kaldor, M. (2018). Cycles in world politics. International Studies Review, 20(2), 214–222. https://doi.org/10.1093/isr/viy038
Kretzmann, J., & McKnight, J. (1993). Building communities from the inside out: A path toward finding and mobilizing a community's assets. ACTA Publications.
Melissen, J. (Ed.). (2005). The new public diplomacy: Soft power in international relations. Palgrave Macmillan.
Moorthy, R., & Benny, G. (2012). Is an “ASEAN Community” Achievable? A Public Perception Analysis in Indonesia, Malaysia, and Singapore on the Perceived Obstacles to Regional Community. Asian Survey, 52(6), 1043-1066. https://doi.org/10.1525/as.2012.52.6.1043
Nye, J. S. (2004). Soft power: The means to success in world politics. PublicAffairs.
Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2006). A meta-analytic test of intergroup contact theory. Journal of Personality and Social Psychology, 90(5), 751-783. https://doi.org/10.1037/0022-3514.90.5.751
Purnama, A. D., Lubis, H. S. H., Rini, F. S., Muslih, M. K., & Harris, J. I. (2025). KKN Internasional UNIDA Gontor: Sinergi pendidikan dan budaya di Malaysia. Community Development Journal: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 6(2), 1813-1820. https://doi.org/10.31004/cdj.v6i2.41040
Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.
Ủy ban Thường vụ Quốc hội. (2025). Nghị quyết số 1685/NQ-UBTVQH15 về việc sắp xếp các đơn vị hành chính cấp xã của Thành phố Hồ Chí Minh năm 2025. Quốc hội Việt Nam.
Wojciuk, A. (2018). Empires of knowledge in international relations: Education and science as sources of power for the state. Routledge.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Elpeni Fitrah, Condro Wibowo, Felicia Ruth Evelyn, Nayla Cleosa Maharani, Faikarashif Andika Rizqian, Muhammad Zhafran Abiyyu, Yohana Aulia Anindita, Kholifatus Saadah

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.




